Malaysia = Malingsia

Pernah denger kata Malingsia kan? Tentu pernah donk. Buat kaskuser dan anggota milis serta forum seperti jasakom dan milis-milis petualangan pasti tahu dengan istilah kasar yang ditujukan kepada negara tentangga kita yaitunya Malingsia, eh Malaysia. Predikat Malingsia diberikan karena negara ini menjadi maling terang-terangan dan melakukan hak paten atas produk asli negari kita tercinta, yakninya Indonesia.
Udah menjadi bahasan klasik kalo negara kita memiliki banyak pontensi dalam segi alam dan keragaman budaya serta manusianya. Ada ribuan dan bahkan jutaan artefak yang tersimpan di negara kita ini, mulai dari tarian, ornamen, motif kain, musik, cerita rakyat, lagu dan lain sebagainya yang menjadi khazanah dan kebanggaan dari masyarakatnya. Tapi bagaimanakan menjaganya dan melestarikannya agar tetap utuh? Itulah pertanyaan penting dan paling penting dari semua pokok bahasan.
Sayangnya, perlindungan hak cipta atau hak milik di Indonesia belum atau masih kurang mendapatkan perhatian bagi pemerintah, dalam hal ini adalah soal hak paten produk dalam negeri yang tidak diurus, sehingga menjadi bumerang bagi negara kita sendiri ketika negara lain mempatenkannya. Dan setelah itu, kita sama sekali tidak boleh memproduksi, katakanlah seperti motif kain hasil kerajinan rakyat kita oleh masyarakat pribumi karena telah diakui sebagai produk negara tetangga. Bukan tak mungkin, jika nanti kripik khas Minangkabau seperti sanjai yang dibawa ke Malaysia lalu dipatenkan oleh mereka kan? There’s nothing impossible.
Saya juga pernah baca kalo urusan hak paten di Malaysia juga tidak ribet dan tergolong gampang, bisa via online. Berbeda dengan tipe pemerintahan kita yang serba sulit, bertele-tele dan amburadul. Wong buat ngurus KTP dan surat-surat resmi yang lain aja susahnya minta ampun, apalagi buat minta hak paten? Kiamat dah….
Hal inilah yang juga seharusnya mendapat perhatian pemerintah kita, birokrasi pemerintahan di Indonesia yang tergolong sulit dan menyulitkan, apalagi bagi rakyat golongan menengah kebawah yang tidak punya nama besar dan pangkat untuk melincinkan segala urusan mereka dengan makhluk berseragam berlabelkan “pemerintah”.
Berikut ini adalah beberapa artefak budaya Indonesia yang telah dicuri, dipatenkan atau diklaim oleh negara lain antara lain:
- Batik dari Jawa oleh Adidas
- Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
- Naskah Kuno dari Sumetera Barat oleh Pemerintah Malaysia
- Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
- Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
- Rendang dari Sumetera Barat oleh Oknum WN Malaysia
- Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
- Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda
- Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda
- Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
- Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
- Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
- Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
- Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
- Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
- Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
- Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
- Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
- Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
- Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
- Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
- Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
- Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
- Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
- Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
- Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
- Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
- Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
- Kain Ulos oleh Malaysia
- Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
- Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
What?? Udah sebanyak itu? Daftar tersebut adalah list yang udah masuk, bagaimana dengan yang belum terdaftar dan yang akan terdaftar? Bukan hanya Malaysia, juga beberapa negara lain ikut campur tangan. Dan selayaknya lah hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah kita, terutama Departemen Kebudayaan, Hukum dan HAM yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan budaya negeri kita ini. Kalo kek gini terus, bisa-bisa semua produk negeri ini diakui sebagai hak cipta negara lain yang cuman nyicip, lihat terus seenak jidatnya ngasih hak paten. Malangnya negerimu ini, Nak….
Berbagai umpatan, makian dan juga sumpah serapah selalu tertuju kepada Malaysia. Jawaban dari hal ini menurut saya adalah karena orang-orang yang berwenang mengatasi hal ini BERMENTAL lebih RENDAH dari mental maling (Malaysia), sehingga membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut, yang pandainya cuman mengecam, sedangkan tindakannya asal bunyi saja. Jika saja dari pertama kali pencurian ini terjadi langsung diantisipasi, maka tentu tidak akan ada kasus pencurian yang berlarut-larut terhadap hasil kebudayaan leluhur kita.
Dibawah ini adalah contoh kasus sederhana yang saya kutip dari milis.
Menurut saya, sebagai yang empunya budaya, kita juga harus fair dalam melestarikan budaya sendiri. Definisi melestarikan yang saya saksikan selama ini adalah hanya dalam tataran diinventarisir, dicatat dan kemudian dijadikan hafalan adik-adik siswa sekolah. Keluar di ujian dan ulangan.
Kalau saya jadi tukang lenong, kemudian datang utusan Kerajaan Malaysia menawarkan pentas di sana, dibayar mahal lalu diminta untuk tinggal dan ngajarin orang Malaysia ngelenong, tentu tanpa pikir panjang saya akan berkata iya. Kehidupan saya diperhatikan. Anak-anak saya disekolahkan dengan baik dan tanpa bayar kenapa juga saya harus menolak?
Lambat laun saya akan diminta pindah kewarganegaraan atas ‘jasa’ saya ‘melenongkan’ Malaysia. Hweeiiii siapa yang tidak bangga menjadi ‘duta budaya’ bangsa. Dan seluruh Malaysia pun ngelenong.
Kementrian Budayanya langsung mencantumkan lenong dalam brosur Visit Malaysia dan menyatakan bahwa itu budaya asli mereka. Soal asal-usul budaya lenong kok bisa asli Malaysia, ah…it’s just five minutes paper works or maybe less. Kita kan serumpun. Ini pekerjaan sangat mudah.Gandrung Banyuwangi
Legong Bali
Cakalele Maluku
Tabot Bengkulu
….Tinggal menunggu waktu untuk masuk dalam daftar ‘budaya asli Malaysia’ Dan kita cuma bisa marah-marah, misuh-misuh, mengumpat… What a looser. Sudah budayanya diambil, dosanya nambah.
Tahukah kita sudah banyak bahasa daerah yang punah? Sadarkah kita para pekerja budaya dan anak-anaknya itu rata-rata ngga sekolah? Pedulikah kita ketika mereka sakit ditolak oleh rumah sakit sehingga harus dirawat seadanya di rumah dengan obat paling mujarab sedunia, air putih?
Berapa banyak masakan khas kita yang sudah tidak tahu lagi gimana masaknya?
Kalau kita merasa punya budaya, pake dong!
Berapa dari kita ngundang lenong waktu ada hajatan?
Berapa dari kita yang ngundang jaipongan waktu ada acara kantor?
Berapa dari kita…ah bakal panjang daftarnya.
Itulah, paling tidak menurut saya, definisi melestarikan. Atau mau menambahkan definisi melestarikan itu misuh-misuh ketika budaya kita diambil?
Semoga saja beberapa tahun kedepan, hak cipta di negeri ini terproteksi dengan baik, sehingga tidak ada lagi budaya kita yang “dicuri” oleh Malaysia. Karena percuma kalau kita cuma memaki kalau dalam kondisinya mendukung mereka untuk melakukan ini. Kita juga sering mendengar kalo bangsa kita adalah bangsa pecundang yang sehingga seenaknya saja diperlakukan oleh bangsa lain, yang sering terkesan dengan mulut manis dan sikap manis. Kenapa? Karena kita memang lemah untuk bertindak yang nyata. Bisanya cuman demo aja tonjok-tonjokan di depan kedutaan negara yang kita serang lalu bakar bendera mereka sebagai aksi protes, namun setelah itu?? Nothing!!!
Marilah kita introspeksi diri agar bisa memperoleh jalan untuk memajukan mentalitas bangsa ini yang sudah sangat parah…. Mari kita tingkatkan sense of belongings kita yang sudah kelewat payah. Salut euyy kepada Malaysia yang sudah banyak menambah khazanah budayanya. Namun, sungguh tak elok rasanya ribut mengenai pencurian budaya sementara selama ini kita memang kurang atau mungkin tak ada effort utk menjaganya. Ini tentu bukan kelalaian pemerintah saja, tapi kita semua sebagai warga negara ini. Dan seberapa banyakkah kita tahu dan memakai budaya kita sendiri? Karena kebanyakan dari kita sudah termakan dengan arus modern dan gaya yang serba modern lalu melupakan citra khas leluhur kita. Mari…!!!
Salam
Filed under: Renungan | Tagged: malaysia = malingsia, malingsia, pencurian artefak, pencurian khazanah bangsa, produk indonesia dipatenkan oleh malaysia

















Nasionalisme..itu aja sih kuncinya.

Klo kita sadar dg itu..Kita akan mati2an menjaganya. Maaf ngomong..ingat kasus AMBALAT? klo punya jiwa bela negara,sharusnya pemerintah menjabani “tantangan” tsb
negeri ini butuh indoktrinisasi kembali
=============================================
Fie :
Malingsia Sialan tu…
Plagiator besar..
urat maluna dah putus x ya..
^_^
=======================
Fie :
1. ngurus hak paten di indonesia masih susah
2. Malaysia bilang, budaya kita hampir sama, masih serumpun, jadi ga salah kalo ada yang diakui budaya malaysia
Gimana jawabnya tu?
=============================================
Fie :
Salam kenal ..
Memiliki teman atau sahabat yang banyak di dunia maya memberikan nuansa tersendiri bagi keseharian aktivitas. Apalagi bisa saling komunikasi dan curhat-curhatan. asyikk deh.
Tolong… bisa tukeran link? untuk website saya http://warnadunia.com
Sebagai gantinya, link blogmu saya masukkan di 3 semua blog milik: winsolu.wordpress.com asianherbal.blogspot.com senopatiarthur.wordpress.com kamu bisa check pageranknya 2 dan 3. ^^ Itung-itung ningkatkan traffik pengunjung dan sahabat kita bersama.
Bila berkenan post komentar aja di http://warnadunia.com/about/
semoga sukses bersama.
i will coming back again
trima kasih
================================================
Fie :
makasi banyak ya.. baek hati nih admin. salut deh gwa. ^^
==========================================
Fie :
darimana dapet daftar ntu????
=======================
Fie :
salam kenal juga. baru nemu bro! thank’s dah comment di blogq. Hidup Indonesia!!!!
============================================================
Fie :
kaya nya ada yg bikin ne jadi alesan buat cyberwar lagi…..
DAMN……gampang banget mereka ngecam kalo itu budaya dan kesenian mereka…its a bullshit..
btw gw liat dari listnya ada kebudayaan minangkabau yg di kecam sebagai budaya mereka…
Mmphhhhhhhhhhhhhhh…………………its a time for serv its down..
grrrr…………………………………………….
=================================================
Fie :
malaysia oh malaysia……..
jahat banget dirimu
===================
Fie :
Kayaknya sebentar lagi BCL juga bakal dinasionalisasi tuh sama malaysia. untung melly goeslaw dan slank tidak ya.
==================================
Fie :
malingsia (malaysia) dari dulu emang gak pernah akur,srobot sana srobot sini. liat aja ntar jadi negara “malangsia” kualat..
salam hangat,muhamaze
==========================================
Fie :
bgm pun malaysia tetap tetangga kita, sama2 negera muslim pula. tidak baik terus2an bermusuhan.
hanya akan buang2 tenaga dan waktu.
lagian. klo diambil hikmahnya. kayaknya skrg indonesia jadi lebih menghargai budayanya…
yg rukun2 aja deh
*just another point of view*
========================
Fie :
iya, gila tu malaysia. ntah apa tujuan nya, sodara(indonesia) sendiri di babat habis nya.
========================
Fie :
bagus blognya,,
tapi “malingsia tu dari mana tuh mbak??
=============================
Fie :
Eh, saya juga pernah kerja di sana. Produk dari indonesia dari pabrik yang sama dengan tempat saya bekerja juga melakukan kecurangan. Barang dibuat Indonesia dilabeli Malaysia. Betul. Ternyata bukan saja produk kesenian asli bangsa kita yang diselip sama mereka, masih banyak lagi.
=========================================
Kunjungan balik. Lam kenal.
Soal panggilan malingsia, kayaknya nggak bakalan ada kalau tidak didahului oleh kata Indon. Jadinya semacam pembalasan gitulah.
Ada sebuah tulisan dari blog tetangga ttg ribut-ribut lagu rasa sayange. Tulisan lama sih, tapi masih menarik utk dibaca:
http://pusingdikit.blogspot.com/2007/10/rasa-sayange.html
===========================================
Fie :
Jangan Salahkan Malaysia/negara lain dek manis, Pemerintahan Indonesia itu yg bobrok, rakyat cuma ditipu dengan suatu proses yang namanya LPJ (Laporan pertanggung jawaban) yang berisi kuitansi2 fiktif. anehnya, malah yg ga bisa gitu dibilang pegawai yang tidak becus, pembangkang, dll. makanya dadis keluar dari pemerintahan lebih enak kuli di perusahaan ini.
=====================
Fie :
tapi kita tidak bisa 100% menyalahkan malaysia, coba fikirkan sudah belum kita benar2 menjaga/melestarikan budaya kita?
Sebaiknya kita bangsa Indonesia, segera mendata semua kebudayaan, kerajinan, kesenian atau apapun kekayaan yang ada di negara kita. Lewat masing2 gubernur yang didistribusikan kepada jajaran di bawahnya, bila perlu dibentuk kelompok kerja khusus untuk menangani pendataan itu. Setelah itu dikumpulkan secara nasional dan diajukan paten ke PBB atau lembaga lain yang berwenang. Semoga kekayaan yang kita miliki tidak akan diakui lagi oleh orang atau bangsa lain, ingat tidak ada kata terlambat kalau kita mau untuk memulainya apalagi sekarang ini juga. Siapa lagi yang akan menjaga warisan nenek moyang kita kalau bukan kita sendiri. Ok?!
===========
Fie :
>> Persetan ma malingsia FUCK MALING=MALAY..
INDONESIA NEVER CRY… AND MALAY ALWAYS CRY, becaus not have a CULTUR