Baru sekitar seminggu yang lewat Ibu saya cerita kalau harga beras, cabe dan kebutuhan sembako lainnya pada naik semua. Dengan harga beras Rp. 6.000/liter udah bikin ibu-ibu rumah tangga menjerit membelanjakan duit, sementara Bapak-bapak makin kepayahan mencari duit tambahan untuk memenuhi kebutuhan. Nah, semalam saya dengar cerita lagi dari Ibu dan sepupu saya, harga beras makin melonjak naik jadi Rp. 9.000/liter. What the….??? Aduh, aduh, kalo begini caranya, mana cukup penghasilan sebulan untuk memenuhi kebutuhan? Yang ada malah “besar pasak daripada tiang”.
Kenaikan harga beras yang merupakan kebutuhan pokoknya empat sehat lima sempurna ini juga berdampak pada kenaikan harga-harga yang lain. Harga cabe Rp. 50.000/kg membuat saya merasa, kok ini cabe rasanya makin manis yah? Apalagi bagi orang Minang yang berprinsip, kalo ga pake cabe ga enak. Keberadaan cabe itu sendiri sudah hampir sama dengan keberadaan minyak goreng yang ikutan naik. Hayoo.. hayoo.. mendingan mulai sekarang ikutan hemat minyak goreng deh, bikin sambel cukup direbus aja (istilah orang Minangnya sambalado uok, plus sayuran rebus dan ikan asin bakar) wah sedap, hehehe..
Besarnya harga kebutuhan pokok sehari-hari tentunya membuat kita makin berhemat dan njelimet dalam membelanjakan duit yang rasanya tidak pernah cukup. Ditambah lagi dengan peliknya hidup di awal 2011 ini, dunia usaha makin melempem, orang-orang males membelanjakan uang untuk hal-hal yang kurang perlu. Beruntunglah yang kerja di instansi pemerintah (PNS), yang kelihatannya selalu berada dalam zona teraman kehidupan, lah wong gajinya naik terus, kemungkinan PHK ga ada, kerja sambil leyeh-leyeh tetep aja dapet gaji, tunjangan de el el, tul ga?
Hari gini, kalo kepasar, belanjaan seharga Rp. 50.000,- rasanya terlalu ringan, cuman dapet satu kantong kecil yang bila dimasak, hanya cukup untuk ngisi perut 3 kali sehari, paling hemat ya untuk dua hari. Coba aja bayangin, kalo dalam satu bulan ini harga sembako naik terus, ditambah dengan kelangkaan minyak tanah yang datang ke warung-warung cuman sekali seminggu (itupun ngantrinya kek semut), berapa rupiahkah yang kita butuhkan untuk memenuhi sekadar kebutuhan perut saja? Buat yang masih belum berumah tangga kek saya sih mending, bagaimana dengan yang sudah punya tanggungan anak, ditambah lagi dengan biaya sekolahnya. Wajar kan, kalo maling makin banyak?
Lho? Apa hubungannya dengan maling? Fenomena maraknya maling yang selama ini saya amati adalah ketika naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang tidak sebanding dengan pendapatan yang didapat sehari-hari oleh masyarakat. Manusiawi toh, kalo kebutuhan perut itu sangat mendesak, “daripado bacakak jo galang-galang, bia lah bacakak jo urang (daripada berantem sama perut, mending berantem sama orang)”, soal resiko pikulnya belakangan.
Yah, mudah-mudahan aja keadaan seperti ini tidak semakin berlarut-larut, dan segera ditanggulangi oleh pemerintah yang berwajib untuk memikirkan dan memberikan solusi yang nyata bagi rakyat Indonesia. Semoga para pemimpin kita bisa peka dengan keadaan ini, jangan hanya bilang “WAJAR Jika Ada Kenaikan Harga”, ahh Om Beye, Om Beye.. Kasihanilah kami Oom…
Filed under: Other, Renungan Tagged: | fenomena harga sembako, harga melejit kami menjerit, harga sembako melejit, kenaikan harga sembako di awal 2011




kwkwkkw..kiamat kalee klo ada K*BO yg kasihan ama manusia kek kita2 ini neng
keknya bntar lagi bakal ada kerusuhan massal deh, kek taon ’66 dan ’98 dulu. presidennya g*blok, t*lol dan d*ngu (in fact lho yah
)
====
Fie :
Thanks to your nice blog. I appreciate your writing.
[...] gambar : di sini Like this:LikeBe the first to like this post. Categories: Daily Tags: Daily, Renungan, stress [...]