A Comment

Pendakian Tanpa Tahap? Aman Ga Sih ????

Dalam seminggu terakhir rajin nguber2 milis yang saya jadi membernya, rata-rata isinya tentang kematian seorang pendaki di MCKinley (ketinggian 6194 meter dpl ) di Taman Nasional Denali , Alaska USA. Jadi ingat dulu teman saya sambil bercanda pernah bilang, kalo tujuan akhir dari sebuah pendakian adalah “kembali pulang dengan selamat”. Baru saya nyadar, walaupun temen saya ngomong sambil becanda, tapi memang intinya bener.

Masih ingat kisah Irvine dan Mallory yang diduga mencapai puncak Everest tahun 1924 jauh sebelum gempita 1953 itu? Siapakah yang dianggap penakluk pertama? Irvine & Mallory vs Hillary & Tenzing. Jawaban Pak Hillary simple saja. “an ascent of Mount Everest could only be described as a success if the climber returned alive.” Yap, kembali pulang dengan selamat.

Keberangkatan Pungkas Tri Baruno , 20 thn. – mahasiswa Universitas Mercubuana- beserta timnya ( Tim Tunas ) dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mendapat restu dari pemerintah/Menko Kesra.Menpora. Ekspedisi beranggotakan 4 orang tsb. mendaki gunung MCKinley yang dimaksudkan sebagai “pemanasan” ( latihan ) sebelum melaksanakan misi utama menaklukkan puncak gunung Vison Massif di Antartica nantinya.

2 pendaki “menyerah” dan menghentikan pendakiannya di base camp , sedang Pungkas dan Zulfa Achyar berhasil mencapai puncak McKinley dan menancapkan/ mengibarkan bendera merah putih disana. Setelah Summit/Victory Ceremony itu kedua pendaki mulai perjalanannya kembali turun. Tiba-tiba Pungkas jatuh ( jatuh disini bukan terjatuh kedalam jurang atau terpeleset ditebing , melainkan jatuh dalam arti ambruk, tidak mampu berdiri lagi ). Sesaat kemudian ia berusaha , dan bisa berdiri lagi. Tapi lagi-lagi kembali ambruk dan langsung jatuh pingsan.

Banyak yang berkomentar kalo tim pendakian ini bergerak tanpa persiapan yang matang dan aklimatisasi yang baik, karena sebelumnya belum pernah menempuh pegunungan bersalju. Kenapa tidak mencoba dulu puncak Cartenz di Irian, selain menghemat biaya, paling tidak kan bisa juga jadi tempat penyesuaian nya tuh. Medan nya juga menantang, dan termasuk salah satu dari seven summitnya di dunia.

“Saya tidak mau mempertanyakan apakah tim ini masuk akal atau tidak tapi hanya keingin tahuan kenapa Pupung (Pungkas) tiba-tiba kolaps. Dengan ditemani dua guide berpengalaman rasanya faktor luar diabaikan, kecuali cuaca tentunya. Menilik kondisi Pupung yang sepertinya “shut down whole system” saya ingat bahwa pikiran adalah kontrol tubuh. Ketika Pungkas merasa misinya selesai yakni mencapai puncak dan menancapkan merah putih maka ada semacam dibawah sadar bahwa tujuan utama telah tercapai. Begitu fokusnya seseorang ia jadi mengabaikan apa yang harus dilakukan setelah puncak. How to get out here in single piece? Saya sendiri mengalami dan merasakan seolah tubuh ngga mau digerakkan. Tubuh sudah menyerah karena tingginya konsentrasi mental dan fisik yang dikonsumsi sebelumnya.” Komentar salah satu miliser, mbak Ambar Briastuti di milis Indobackpacker

Jadi mengapa Pungkas yang sudah demikian tinggi semangat, motivasi dan ketulusannya, ternyata gagal dan kegagalannya justru bukan disebabkan oleh kecelakaan (jatuh kejurang, tertimbun avalanche/salju longsor dsb) melainkan hanya karena “kehabisan nafas” (akibat kelelahan dan tidak tahan terhadap lingkungan).

Peristiwa “tujuan ( pulang selamat ) yang tidak tembus” itu terjadi akibat adanya ssuatu yang keliru. Yang keliru bukan karena Pungkas kurang serius/fokus , karena dia sudah sangat serius dan fokus. Juga sama sekali tidak ada tanda tanda apapun yang menunjukkan bahwa dia kurang tulus melakukan misinya. Semua kesungguhannya menunjukkan bahwa dia tulus menjalankan semuanya.

Jadi dimana letak kesalahan utamanya ? Menurut saya , masalahnya terletak pada KURANGNYA PENGETAHUAN ( alias pemahaman yang dimiliki/dianut tentang masalah yang dihadapi TIDAK PAS/SALAH ). Kekeliruan “knowledge” itulah sumber utama yang akhirnya mengantarkan/ mendatangkan keyakinan diri yang berlebihan (over confidence) dan berakhir dengan musibah. Mengapa saya meyakini adanya “kesalahan pemahaman/knowledge ” ini ?

Semula saya belum menangkap benar peringatan-peringat an ( statement ) dari pendaki senior Don Hasman dkk ( Dondy Rahardjo & Okta ) yang menilai bahwa tim Pungkas, Rudi ( yg tidak jadi berangkat ) dkk adalah “tim yang tidak masuk akal” Tim ini -menurut para pendaki senior tsb yang menjadi penasehat tim Tunas tetapi akhirnya mengundurkan diri sebagai penasehat karena menilai tim tsb “belum waktunya/layak mendaki MCKinley” sementara tim tetap berkeras berangkat dan merasa mampu.

Tetapi setelah saya membaca sendiri ABSTRAK dari Tim Tunas mungkin abstrak ini pula yang menjadi proposal yang diajukan ke pemerintah. Saya menjadi paham tentang apa yang dimaksudkan dengan “tim tsb tidak masuk akal” oleh Don dkk.

Dari abstark itu terbaca jelas bahwa pengalaman Pungkas baru sebatas mendaki G. Salak ( 2211 meter ) dan G. Galunggung ( 2167 m ). Mungkin juga G.Gede ( 2958 ). Boleh saja teman-temannya para pramuka pendaki memberikan komentar bahwa Pungkas sangat gesit/kuat saat mendaki, tapi kalau itu benar maka kekuatan/kegesitan itu baru boleh diakui & diyakini bagi lingkungan gunung-gunung tropis dengan ketinggian disekitar 2000 meter atau dibawah 3000 meter.

Ini salah satu titik kritis “penyebab” yang perlu diwaspadai. Kalau kita berpijak pada Abstrak tsb. berarti Pungkas belum pernah sekalipun mendaki ke ketinggian diatas 3000 meter. Seberapapun rajinnya ia berlatih di Cibubur , bagaimana mungkin seorang pendaki 3000 an meter tiba-tiba merasa kuat untuk langsung menaklukkan ketinggian diatas 6000 meter ? ( McKenley 6194 meter ). Dan sama sekali dia belum pernah menginjakkan kakinya di daerah pegunungan bersalju.

Bukankah ketrampilan & kompetensi seorang pendaki harus selalu diasah secara bertahap ( katakanlah dari lingkungan ketinggian 2000 an meter , naik kelas ke 3000 an , lalu 4000 an , 5000 an dst. dan bukan dari 2000 an langsung ke 6000 an. Demikian juga area tropis sangat berbeda dengan sub tropis dan area antartika.

Setiap perbedaan ketinggian (yang “hanya”) 1000 meter memberikan perubahan yang cukup ekstrim. Rupanya bekal utama Pungkas mendaki MCKinley “hanyalah” motivasi dan tekad saja , tetapi pengalaman dan pengetahuannya -adalah betul- masih sangat tidak masuk akal (maksudnya belum cukup) untuk dipakai mendaki McKinley. Hanya motivasi itulah yang masih menyebabkan kakinya sampai ke puncak. Hanya tekadnyalah yang membuat kakinya tetap sampai menginjak puncak, tetapi begitu “sasaran utama” itu tercapai, fisik dan “nafas”nya langsung tersadar dan berhenti, bagaikan pelari marathon yang fisiknya tidak kenal menyerah, tetapi tiba-tiba ambruk “menyerah” setelah menyentuh garis finish.

Padahal tujuan sebenarnya dari “latihan secara bertahap” itu bukan (hanya ) agar mampu mencapai puncak, melainkan itu prasyarat & prosedur SAFETY. Dan safety harus diartikan “sampai kembali kerumah dalam keadaan selamat”.

Dari ketinggian 2000 an langsung ke 6000 an ? Menurut saya , itulah yang disebut “tidak masuk akal” oleh Don dkk. Wawasan ( pengetahuan akan inti masalah ) yang keliru itulah yang mendatangkan over confidence yang sangat berbahaya.

Saya setuju bahwa Pungkas sebetulnya masuk golongan pendaki berbakat. Sebetulnya ia memang pendaki yang mumpuni dan mampu , namun seharusnya ia menjalankannya tahap demi tahap. Melakukannya langsung dari 2000 an meter ke 6000 an , sangatlah berbahaya.

Pendapat ini bukan sekedar apa yang sering direspons/dituding orang dengan “ya tentu saja demua bisa. Semua orang hanya komentar setelah sesuatu terjadi” , melainkan mencoba untuk mengevaluasi ( tentu saja dari kacamata pribadi dan keterbatasan pengetahuan ).

Satu hal lagi yang saya pelajari, kegagalan itu BUKAN hal yang memalukan. Terkadang kegagalan itu menjadi pelajaran berharga untuk generasi mendatang. Saya berharap ada laporan resmi yang bisa kita baca dan diambil point penting. Bukan menuding siapa yang salah secara membabi buta ala Jon Krakuer itu. Hanya saja maukan kita mengambil hikmahnya.

So Let’s Get the Rock… hehehehhe….. Peace 😀(Dari berbagai sumber)

4 thoughts on “A Comment

  1. Its a great mind.. with a simple words. Juz like mr Hillary said, “an ascent of Mount Everest could only be described as a success if the climber returned alive.”.. thats rite..🙂

    I’m agree with him..compeletely. an adventurer especially a climber, it doesn’t really important bout what tha result iz..but tha moz important thin’ iz SAFETY, INTELLIGENCES ‘n STRATEGY.

    Sum people have sum misunderstanding with thiz..and i dont want it happen to ya ‘n all off ur companions, Princess :-s

  2. yah mbak gimana sih………………..

    lah pasti dak ikut diklatsar yah, iks malu deh ntu khan intinya Manjemen Ekspedisi, 😀

    hidup peMbodohan di masa diklat,,,,,, ngajrin mikir😀
    bruakakkakkaakakakkak

  3. Pendakian tanpa tahap tahapan itu seperti kita makan Supermi yaitu serba Instant jadi jangan ditiru nanti bisa koit seperti si pahlawan pramuka di McKinley itu, tapi yang lebih penting sekarang siap yang paling bertanggungjawab jangan sekedar menutupi atau menghibur diri sudah takdirlah ambil hikmahnyalah, kan bisa dirunut kalao naik gunung gede syaratnya abc, kalay naik Jayawijaya def kalau naik McKinley xyz nah tahapan apa yang dilewati, saya salut sama Om Don Hasman yang sudah memperingati secara halus dengan mundur dari Tim tapi Tim rupanya lebih pede jadinya yah takdir dan hikmah itu tadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s