Salam Lestari

Salam Lestari

hutan-hijau

Istilah salam lestari sering dipakai dan telah menjadi slogan bagi anak-anak pecinta alam atau penggiat alam bebas. Setiap kali bertemu dengan penggiat alam lain, terkadang ada rasa haru menyeruak dalam dada dan disaat itulah sering terlontar dengan bangga kata “Salam Lestari”. Juga disaat bertemu dengan kawan-kawan lain seperjalanan, ketika mengadakan acara seperti pendakian massal atau sejenisnya, juga terungkap slogan ini.

Menurut saya pribadi, istilah salam lestari lebih ke makna nya. Dengan adanya event atau kegiatan yang kita lakukan hendaknya dapat menambah kecintaan kita kepada alam, terutama dalam menjaga kelestarian alam itu sendiri. Hendaknya dengan apa yang kita lakukan, bukannya menambah kerusakan tanah, udara, tumbuhan dan lingkungan, malah semakin membuat alam kita berseri bebas dari polusi.

Namun, seringkali hal tersebut jauh dari harapan kita. Yang ada sekarang malah banyak alam dan lingkungan yang tercemar. Bukan hanya dari kalangan kota hingga desa, sampai di jalur-jalur dan puncak gunung pun tak luput dari sampah menggunung. Itukah yang dinamakan dengan lestari? Tentu tidak bukan? Beberapa kali bahkan sering diadakan acara opsih atau operasi bersih pada mulai dari puncak gunung hingga turunnya mereka membawa sampah-sampah yang ditemui dan akhirnya sesampainya di bawah sampah tersebut dikumpulkan lalu dibakar sama-sama. Namun sampai kapankah opsih ini akan terus berlanjut, jika masyarakat gunung yang lain tetap berbuat sesuka hati mereka tanpa memperhatikan lingkungan.

Masa sih, puncak gunung yang bisa dibilang hanya terjamah oleh orang-orang penggiat alam (dalam artian bukan masyarakat biasa) tercemar oleh sampah? Bukan lagi sedikit, malah merusak pemandangan yang harusnya kita nikmati dan kita syukuri. Apa salahnya habis memakai logistik, sampahnya kita kumpulkan lalu kita bakar. Ga akan makan waktu yang lama kok. Kalo di kehidupan kota sih, ada disediakan tong sampah dan ada petugas yang tiap pagi datang membawa sampah kita. Nah, bagaimana dengan di gunung? Apakah akan ada hal seperti itu? Kecuali jika gunung memang dipakai, diresmikan oleh pemerintah kota untuk dikelola sebagai ajang wisata. Kalo gitu mah lain cerita, coy…

Masihkah kita akan mengotori alam kita (mostly gunung), tempat kita menghirup oksigen dan udara yang paling bersih dengan sampah bertebaran? Mari sejenak kita renungkan…!!

Salam hijau, salam lestari…!!!🙂

7 thoughts on “Salam Lestari

  1. Pingback: Environment and nature » Blog Archive » Salam Lestari

  2. kak vi……………………….

    bantuin ki donk…………

    gimana cara nulis blog yang baekkkkkk

    ki gak bisa merangkai kata2 biar jadi kalimat2 yang bagus

    ki lihat blog kakak mantap banget………..

    oh ya kak kapan lagi nich mendaki lagi………..

    ajak2 donk ki😀

  3. Lestari
    Siapakah kau sebenarnya
    Lestari
    Ataukah hanya sebuah kata
    Lestari
    Jika benar kau sarat makna
    Lestari
    Nggak mungkin hanya di salam saja

    (penggalan lirik lagu dari tamasya band)

    Salut buat blognya…

    Salam Lestari…!!!

  4. ga ada rasa malu sih kalo buang sampah sembarangan😦
    yang ada paling sering alasannya “yang lain juga buang sampah sembarangan, ngapain aku capek-capek bawa turun sampahnya”

    Orang-orang model gitu kayaknya bakal ikut-ikutan makan tai juga kali ya kalo banyak orang yang suka makan tai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s