Edelweis VS Api Unggun

FENOMENA EDELWEIS DAN API UNGGUN

api-unggun

Menanggapi sebuah tulisan teman di blog nya tentang edelweiss dan api unggun, saya juga ingin sedikit bekomentar tentang sebuah kebiasaan yang malah jadi kewajiban bagi para penikmat alam bebas sekarang ini.

Mengambil edelweis, sedikit atau banyaknya tetap tidak dibenarkan. Kecuali untuk tujuan penelitian dan itupun harus memiliki izin tertulis dari yang berwenang. Produk UU konservasi dengan tegas melarang adanya pengambilan edelweis, di samping itu, ketentuan tak tertulis dari komunitas penggemar olah raga alam bebas pun kayaknya juga ga membenarkan.

Mau ambilnya banyak atau sedikit, tetap saja menganggu populasinya. Bayangkan kalau 1 pendaki mengambil 1 tangkai, kemudian ada 1000 pendaki, berarti ada 1000 tangkai yang diambil. Sedikit atau banyak, baik populasi tumbuhan ataupun satwa di suatu kawasan, apalagi kawasan konservasi, berpengaruh terhadap keseimbangan kawasan tersebut. Tidak banyak lho spesies yang bisa tumbuh di zona sub alpen karena memang hanya tumbuhan tertentu yang bisa tumbuh (seperti edelweis dan cantigi) karena memang zona ini memiliki banyak faktor pembatas (ketinggian, unsur hara yang terbatas, suhu dan cuaca yang cukup ekstrim), jadi kalau kita ambil terus-menerus bisa saja populasinya menjadi berkurang dan akhirnya hilang dari kawasan tersebut. Kalaupun tidak hilang, pertumbuhannya akan terganggu, sehingga tak heran kalau edelweis di beberapa gunung sekarang ini tumbuhnya kerdil-kerdil dan kalau berbunga juga tidak sempurna.

Namun peristiwa sakral pengambilan edelweiss tidak juga luntur dari kebiasaan para pendaki yang sampai di puncak gunung. Bukan hanya pendaki amatiran, namun yang mengaku dari kelompok-kelompok pecinta alam dan organisasi lainnya tetap tidak melewatkan peristiwa langka ini. Mungkin juga termasuk saya sendiri, hehehhe…

Membuat api unggun pun demikan. Maksudnya, untuk tujuan survival tidak masalah lah, tetapi kalau hanya untuk tujuan “sekedar” menghangatkan badan atau menambah suasana pendakian menjadi lebih “hidup” dalam canda tawa rasa-rasanya ga perlu dey (meskipun kayu yang diambil berasal dari patahan ranting atau dahan yang sudah kering). Seorang konservatif naturalis akan berpikir bahwa dengan membakar kayu-kayu kering itu sama saja dengan membebaskan karbon ke atmosfer yang seharusnya karbon itu harus kembali ke tanah dan menyusun kembali keseimbangan unsur hara tanah. Membakar sesuatu di gunung pun juga tidak disarankan karena bisa memicu terjadinya kebakaran, baik kebakaran yang bersifat langsung atau tidak langsung. Kebakaran yang bersifat tidak langsung seperti terpicunya gas metan (CH4) di bawah permukaan tanah yang mudah sekali terbakar. Gas Metan ini terbentuk dari anaerob decomposition serasah-serasah yang menumpuk dan terus menumpuk. Pada kasus kebakaran hutan, gas Metan ini juga diketahui berperan dalam memperparah dan memperluas areal yang terbakar.

Bekas dari api unggun (abu dan arang) juga menciptakan kesan bahwa gunung menjadi kotor sehingga tidak enak di pandang. Di samping itu bekasnya yang berupa arang bisa saja dimanfaatkan oleh pendaki yang keblinger untuk corat-coret papan penunjuk jalur atau apalah yang bisa ditulisi dan hal ini akan meningkatkan vandalisme. Vandalisme lagi-lagi juga merusak pemandangan dan bikin hati dongkol aja. Huuuhh…kurang kerjaan amat sey pendaki yang kerjanya corat-coret.

Kalau alasan api unggun untuk menghangatkan badan, menurut saya juga tidak pas. Kan masih ada jaket, sleeping bag, balaklava, sarung tangan, kaos kaki, tenda, jadi buat apa api unggun? Asap dari api unggun pun sering kali menganggu pendaki lainnya, sering memenuhi area camping ground sehingga menganggu pernafasan. Kadang asapnya juga masuk ke dalam tenda dan membuat tenda menjadi pengap, dan tentunya hal ini membayahakan bukan? Setelah kita seharian mendaki, lalu kita membuka tenda di lokasi di bawah puncak, lalu kita menginginkan tidur untuk mempersiapkan summit attack esoknya, dalam istirahat kita membutuhkan oksigen yang cukup, dan kebutuhan akan oksigen ini tidak terpenuhi dengan baik apabila dalam tenda atau lokasi camping ground dipenuhi dengan asap. Apalagi kalau asapnya dari hasil pembakaran plastik, wah suka bikin jengkel, secara kan asap dari pembakaran plastik baunya minta ampun, bikin pusing, bersifat karsinogenik, beracun, dan punya daya ikat di hemoglobin yang lebih tinggi dari oksigen. Capppe dey…

Pembakaran, selain menimbulkan asap, juga banyak menyedot oksigen bebas di udara. Pada gunung-gunung yang rendah memang tidak berpengaruh nyata, tetapi pada gunung-gunung yang tinggi sangat berpengaruh karena konsentrasi oksigennya memang sudah tipis. Dengan bertambahnya ketinggian, konsentrasi oksigen di atmosfer menjadi berkurang. Pada ketinggian 0 mdpl, tekanan barometer 760 mmHg dan oksigen menyumbang sekitar 21% terhadap tekanan ini, artinya semakin kita naik maka semakin sedikit oksigen yang didapat. Tekanan parsial O2 alveolus pada keadaan normal adalah 100 mmHg, pada ketinggian 3.000 mdpl sekitar 60 mmHg. Ketinggian dan menipisnya oksigen di atmosfer menjadi fenomena tersendiri dalam menyumbang kasus mountain sickness dan mekanisme fisiologi untuk mengkompensasi keadaan ini pun menjadi bahasan yang menarik. Tetapi tulisan ini bukan untuk membahas fenomena tersebut melainkan untuk menekankan segala sesuatu yang mencemari udara (asap yang banyak, yang sedikit enggak kali ya) dan pembakaran yang tidak perlu (api unggun) menjadi sesuatu yang perlu kita telaah lagi keuntungan dan kerugiannya.

Tambahan sumber dari www.amsiku.multiply.com

5 thoughts on “Edelweis VS Api Unggun

  1. Halah yang nulis ni tulisan ja
    kadang masih bawa pulang tu edel kan?
    hayoooo ngakuuuuuuuuuu..
    xixixixix
    ^_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s