Le Grand Voyage

LE GRAND VOYAGE


“Kau memang pandai membaca dan menulis. Tapi kau tidak tahu bagaimana hidup ini!”. Penggalan kata tersebut adalah yang terucap dari seorang ayah kepada anaknya dalam film Le Grand Voyage yang diputar di Metro TV malam minggu kemaren. Film ini berkisah tentang Reda (Nicolas Cazale) dan ayahnya (diperankan oleh aktor kawakan Mohamed Majd) yang menempuh perjalanan dari Perancis ke Saudi Arabia (Mekkah) untuk melaksanakan ibadah haji dengan menggunakan mobil! Wow, ke Mekkah dengan menggunakan mobil? Ck..ck..ck..

Kisah ini terdiri dari ayah yang frustasi dengan kehidupan keluarganya, ibu terjebak kehidupan rumah tangga, anak laki-laki mereka yang kogok bicara selama 2 tahun, Violet si putri bungsu, kakek yang hobi menonton video porno dan paman yang tidak stabil mentalnya. Keluarga yang kacau balau ini bersama-sama mengantarkan si bungsu, Violet untuk mengikuti kontes Little Miss Sunshine dengan mobil VW keluarga yang mogok setiap kali distarter. Maka, terjadilah adegan yang lucu, memancing emosi, haru, dan penuh kekacauan sepanjang film ini.

Perjalanan akbar yang panjang ini, melintasi berbagai negara di benua Eropa dan akhirnya sampai di Mekkah bukanlah perjalanan yang mudah. Si anak yang masih sekolah terpaksa harus libur beberapa hari untuk memenuhi keinginan sang ayah. Reda yang harus menemani ayahnya berangkat dengan menggerutu dan berwajah masam. Sekilas film ini kek film backpacker, cuman bedanya mereka menyebutnya ziarah (masa backpacker bawa mobil pribadi, hihihi :D).

Masalahnya adalah si anak yang udah lahir di Prancis dan berpaham sekuler, sok tahu tentang kehidupan yang berpacaran dengan gadis non muslim, dan si ayah yang seorang muslim yang taat, kolot dan keras kepala. Namun, bagaimanapun ia keras kepala, ketika ia shalat, ia tidak memaksakan shalat bahkan tidak mengajak Reda untuk shalat. Sebuah nilai agama yang tidak dipaksakan dan kisah yang sederhana.

Berbagai tantangan dan halangan dihadapi oleh mereka. Mulai dari ketemu orang yang ngotot ikut ke mobil mereka, masalah passport dan visa di perbatasan negara Turki, ketimbun salju di Bulgaria yang menyebabkan ayahnya sakit beberapa saat karena hipotermia, trus juga Reda yang mabuk dan ayahnya yang kehilangan duit karena kecurian oleh Mustafa (warga Turki yang nolong mereka dan ngotot ikutan ke Mekkah), si anak yang mabuk-mabukan dan main perempuan, si ayah yang beli kambing karena Reda ingin makan daging untuk tambah stamina trus kambingnya kabur di tengah gurun (kalo bagian ini lucu banget, heheheh :D).

Ketika Reda akhirnya tak sanggup untuk menahan tanya “Kenapa ayah tidak naik pesawat saja?” lalu si ayah menjawab “Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.

”Apa?”

”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…” puitis bangetttt…

Ada bagian yang menyedihkan ketika Reda tak rela si ayah memberikan uang pada pengemis wanita di Damaskus, padahal mereka udah kekurangan uang banget. Reda ngambek dan lari ke atas bukit, ngotot ingin pulang. Ayahnya nyusul jalan ke bukit tersebut dan bilangin kalo Reda bisa jual mobil mereka lalu pulang naik pesawat dan ayahnya akan tetap melanjutkan perjalan sendiri ke Mekkah. “Aku tidak butuh siapa-siapa, kau bisa pulang naik pesawat” kira-kira begitu ucapan ayahnya (lupa-lupa ingat si :-?).

Ketika akhirnya Reda menemukan uang dalam kaus kaki yang tersembunyi di jok mobil (padahal ayahnya bilang itu duit udah dicuri oleh Mustafa) yang ternyata ayahnya cuman ingin Mustafa tidak ikut dalam perjalanan mereka, ia memakai uang tersebut untuk ke bar dan meninggalkan ayahnya tidur di hotel sendirian. Ketika Reda pulang ke hotel membawa perempuan, si ayah sangat marah dan besoknya menenteng koper dan berjalan. Reda minta maaf dan menyesal namun si ayah tak mau dengar, lalu bilang “hasn’t your religion heard of forgiveness?” baru setelah itu si ayah luluh.

Walaupun menempuh perjalanan berat, mereka akhirnya sampai di Saudi. Ketika Reda berbincang-bincang dengan ayahnya tentang makna dan pelajaran yang mereka petik dalam perjalanan akbar mereka, untuk pertama kalinya Reda tersenyum dan menikmati perjalanan tersebut.

Ending film yang membuat hati penonton berdarah adalah ketika di sebuah terminal bus menuju Mekah mereka berpisah. Reda menunggu kepulangan sang ayah beberapa hari kemudian. Namun saat rekan-rekan sepemberangkatan sang ayah pulang, sang ayah tidak ada dalam rombongan. Ia terus menunggu hingga malam. Sampai kemudian, kejadian dalam mimpinya seolah menjadi nyata. Ada seorang tua dengan domba-domba gembalaan melewatinya. Reda mencoba memanggilnya, namun ia tidak diacuhkannya.

Reda menyusul hingga Mekah. Film ini menggambarkan suasana Mekah ketika musim haji berlangsung, dan Reda ada ditengah-tengah mereka. Ditunjukan betapa kecilnya manusia ketika berjuta-juta umat mengelilingi Kabah. Reda terlihat menyelinap di antara jejalan jemaah hingga akhirnya ditangkap karena dianggap membuat keonaran (ia masih menggunakan T Shirt dan jeans saat jemaah lain hanya menggunakan pakaian ihram).

Reda kemudian dituntun memasuki kamar mayat jemaah. Satu persatu kain kafan dibuka, hingga kemudian ia menemukan ayahnya di sana. Scene ini menjadi puncak dari film ini. Menyaksikan seorang anak yang menangis di samping jenazah sang ayah yang baru dikenal dan dicintainya, justru meninggalkannya dalam satu pukulan. Dan satu hal lagi, adegan nangis Reda dalam film ini terasa begitu alami dan pedih.😦

Akhirnya Reda pulang juga ke Perancis dengan naik pesawat setelah menjual mobil tua mereka dan mendapatkan pelajaran berharga dari perjalanan spiritual mereka.

Film yang memenangkan penghargaan di Venice Film Fertival 2004 ini layak banget untuk ditonton terutama buat yang menikmati petualangan, meskipun inti dari film ini bukanlah bertualang. Film yang mendidik tentang kesabaran, pengorbanan, keikhlasan dan kesederhanaan. Duh pengen nonton lagi….

Mau filmnya? Download di sini

5 thoughts on “Le Grand Voyage

  1. Wow..Suka duka sepanjang perjalanan dlm film ini & ending cerita yg luar biasa, membuat kita bs mencerna makna2 dlm film ini.
    Btw, kpn yah novel paul sussman diangkat ke layar lebar?😦
    ===========
    Fie :

    Bener bro, ni film keren bangettt…
    kalo paul sussman si, kek nya nunggu kita jadi sutradara, hehehehe😀

  2. Subhanallah, gw nonton neh film persis setelah nonton foilm emak ingin naik haji, sebuah filma yang mencerahkan dan menginspirasi kita untuk berjuang tanpa kenal lelah, penuh ikhlas dalam menggapai sebuah kewajiban…..nice blog bro!!! lam kenal…
    ===========
    Fie :

    Emang ingin naik haji? ketemu dimana? ada linknya ga bos?

  3. Yeah, film yg bikin bangun dari tidur panjang..
    Tapi yg aku tonton ko ceritanya tak selengkap yg kau ceritakan ya sis, aku donlot d idws, tak ada tuh asal usul keluarganya, tentang kakenya dan putrinya itu.. dipotong kali ya.. heuheu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s