Ayo Kepasar

PASAR TRADISIONAL

Pasar tradisional (definisi disini adalah sayuran dan hasil pertanian) biasanya identik dengan harga murah dan tawar menawar yang ektrem antara pembeli dan penjual (lha iya, di supermarket mana ada tawar menawar). Biasanya harga yang ditawar itu setengah atau sepertiga dari harga yang ditawarkan oleh sang penjual. Entah kenapa, si penjual sendiri ga mau menjual barangnya dengan meletakkan harga pas, namun cenderung ngasih harga tinggi, mungkin dengan harapan ntar dapat untung gede kalo ada yang langsung beli tanpa nawar. Kalo menurut gw pribadi sih, seandainya gw jadi penjual, gw bakal kasih harga pas aja untuk barang-barang yang gw jual, karena akan lebih efisien. Tapi rasanya, tanpa adanya proses tawar menawar, pasar tradisional jadi kurang asyik.

Dengan adanya isu yang gw dengar belakangan ini dari beberapa orang, di Padang Panjang akan dilakukan rehabilitasi dan pembangunan besar-besaran dalam bidang pasar, yang itu juga berarti akan berdiri pasar modern yang terdiri dari mall dan supermarket layaknya kota-kota besar lainnya. Memang si, kita perlu berkembang ke arah yang lebih maju. Tapi seandainya boleh memilih, gw lebih suka belanja di pasar tradisional daripada pasar modern. Dari apa yang gw alami, belanja di pasar tradisional terasa lebih akrab dan alami. Celotehan ibu-ibu penjual sayur terasa lebih manis di telinga gw daripada senyuman tipis para penjaga mall yang seperti dipaksakan karena dituntut oleh pimpinan perusahaan. Keakraban dan candaan-candaan ringan justru tercipta jika belanja di pasar tradisional yang notabene penjualnya adalah para petani dan pedagang kecil yang memandang hidup apa adanya (cieee….😉 ).

Tapi, walaupun nanti pasar Padang Panjang udah direhab, keberadaan pasar tradisional tetap akan dibutuhkan karena memang masyarakat membutuhkannya. Tidak semua orang bisa belanja di supermarket dan bergaya hidup menengah ke atas. Awalnya gw sempat prihatin dengan pemindahan pasar sayur ke terminal Bukit Surungan yang terlalu jauh dan sepi. Boro-boro buat jual sayur dengan harga tinggi dan dapat keuntungan yang sepadan, buat ongkos aja duitnya udah berapa, karena yang jual sayur itu adalah pedagang kecil-kecilan yang ambil sendiri sayurannya di kebun mereka (memandang dari sudut pandang petani karena keluarga gw juga petani).

Gw sendiri menikmati banget momen-moment belanja ke pasar (biasanya hari Senin). Gw bisa lihat wajah-wajah mengantuk di depan dagangan, nenek-nenek yang menawarkan barangnya, bapak-bapak yang meyakinkan gw seolah barang dagangannya yang paling bagus dan paling murah (hihihi…. :D). Biasanya sih kalo gw belanja, gw ga berani menawar dengan harga yang ga pantas, karena gw ga tega liat pedagang yang terkadang terkesan pasrah dengan harga berapapun (putus asa karena ga cepat habis).

Gw cinta pasar tradisional karena murah meriah, pedagang yang terkesan akrab dan alami, bisa milih mana yang bagus tanpa harus dipelototi karena ga jadi beli (hehhehe :D). Dan gw berharap, pasar Padang Panjang yang sekarang ga perlu di rehab besar-besaran, cukup ditertibkan karena banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangan di jalanan dan berserakan yang bikin gw suntuk sekaligus sedih. Hmm……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s